
Di era digital 2025, UMKM menghadapi tantangan besar dalam menentukan harga produk atau jasa. Persaingan bukan hanya dengan toko sebelah, tetapi juga dengan marketplace besar, brand internasional, hingga dropshipper. Kesalahan dalam strategi pricing bisa membuat konsumen lari ke kompetitor, sedangkan harga terlalu murah bisa menggerus keuntungan.
Artikel ini akan membahas strategi pricing terbaru untuk UMKM agar tetap kompetitif dan profit di tengah persaingan digital.
1. Memahami Perilaku Konsumen Digital
Konsumen 2025 semakin pintar. Mereka tidak hanya membandingkan harga, tapi juga:
- Value for money: apakah produk sebanding dengan harga?
- Experience: kemudahan belanja, layanan cepat, dan after-sales.
- Brand trust: ulasan, rating, dan keaslian produk.
Artinya, UMKM harus menyesuaikan harga dengan value yang ditawarkan, bukan sekadar ikut perang harga.
2. Menggunakan Strategi Psychological Pricing
Beberapa teknik pricing yang terbukti efektif:
- Charm pricing: Rp99.000 terasa lebih murah dibanding Rp100.000.
- Bundle pricing: paket 3 produk dengan harga spesial.
- Anchoring: tampilkan harga lama yang lebih tinggi lalu diskon, agar konsumen merasa lebih hemat.
Strategi ini sederhana tapi punya dampak besar terhadap keputusan pembelian.
3. Segmentasi Pasar dan Diferensiasi Harga
Tidak semua konsumen punya daya beli yang sama. UMKM bisa membagi harga sesuai target pasar, misalnya:
- Paket basic untuk konsumen sensitif harga.
- Paket premium untuk konsumen yang mencari kualitas dan layanan ekstra.
Dengan begitu, bisnis bisa merangkul lebih banyak segmen tanpa kehilangan margin keuntungan.
4. Manfaatkan Data dan Teknologi
Marketplace dan e-commerce kini menyediakan fitur analitik. UMKM bisa:
- Melacak harga kompetitor.
- Mengetahui produk mana yang paling laku.
- Mengatur harga otomatis sesuai tren pasar.
Penggunaan teknologi ini membantu UMKM lebih cepat beradaptasi dibanding hanya mengandalkan intuisi.
5. Jangan Takut Naikkan Harga
Banyak UMKM ragu menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan. Padahal, jika value produk meningkat (misalnya kualitas lebih baik, pengemasan profesional, layanan lebih cepat), konsumen bersedia membayar lebih.
Kuncinya adalah komunikasi yang tepat kepada pelanggan bahwa harga baru sebanding dengan kualitas yang diterima.
Kesimpulan
Strategi pricing bukan sekadar menempelkan angka di produk. Di tahun 2025, UMKM harus cerdas menggabungkan data, psikologi konsumen, dan value yang ditawarkan. Dengan begitu, harga yang dipasang tidak hanya kompetitif, tapi juga menguntungkan bisnis jangka panjang.





